Aku rasa itu kalimat yang pantas untukku saat ini. Emang bener banget, segala hal terjadi karena sebuah alasan. Selain alasan bulan September kemarin aku di standbykan (Novembernya habis kontrak) karena hanya satu rig yang beroperasi ada alasan lain kenapa aku dirumahkan oleh perusahaan. Eh sebentar, sebelumnya aku kira alasan dirumahkan oleh perusahaan karena kinerjaku yangLanjutkan membaca “Allah sebaik-baiknya penulis scenario”
Arsip Penulis:shisil Fitriana
Pos Blog Pertama Saya
Jadilah diri sendiri; Diri orang lain sudah ada yang memiliki. — Oscar Wilde. Inilah pos pertama di blog baru saya. Saya baru saja memulai blog baru ini, jadi ikuti terus untuk melihat konten lainnya. Berlangganan di bawah untuk mendapatkan pemberitahuan ketika saya mengeposkan pembaruan terbaru.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju…. (garis waktu, fiersa besari) Aku tersadar bahwa jiwaku terganggu. Kecewa atas anganku terhadapmu, terhasut oleh omongan orang atasmu. Padahal akupun tak sebaik yg kau kira. Kemudian aku pergi karena ingin berdamai dengan diriku yang beda, bukan karena kamu yang salah. Bodohnya aku yang dulu, kenapa aku harus kecewa atas pilihanmu, atau atas perkataanmu yang berubah di lain waktu. Bukankah kamu punya alasan atas apa yang kau pilih? dan bisa jadi ini bukan karenamu kan? Kenapa aku harus protes? Ah, aku juga tak tau kenapa aku bisa begitu, harusnya aku dulu bertanya bukan banyak berangan-angan. (mu, disini tidak cuman kamu tapi kamu-kamu yang pernah merasa dekat denganku hehe) Teruntuk teman teman di bangku sekolah berdasi merah sampai berdasi abu-abu, teman-teman dibangku kuliah, teman se organisasi, teman sekosan, teman karaoke, teman sekamar, teman kerja, teman ngopi, teman di dunia maya dan semua orang yang pernah berjabat tangan dan bertukar senyuman untukku. Terimakasih telah memberi kesempatan untuk mengenal, memberi tahu arti kehidupan dan yang jelas memberi kesadaran bahwa aku tertau banyak mengkritisi yang harusnya hanya sekedar dimaklumi. Manusia tempatnya salah memang, tapi untuk diriku ini banyak sekali salahnya dan aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku yang dulu. Dan teruntuk kamu yang masih bersamaku, menerima keperbedaanku. Terimakasih telah bodo amat atas keanehanku. Terimakasih sudah bertahan
Ini adalah contoh pos yang aslinya dipublikasikan sebagai bagian dari Blogging University. Ikuti salah satu dari sepuluh program kami, dan mulai buat blog dengan tepat. Anda akan memublikasikan pos hari ini. Jangan khawatir dengan tampilan blog Anda. Jangan khawatir jika Anda belum memberinya nama, atau merasa bingung. Cukup klik tombol “Pos Baru”, dan beri tahuLanjutkan membaca “Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju…. (garis waktu, fiersa besari) Aku tersadar bahwa jiwaku terganggu. Kecewa atas anganku terhadapmu, terhasut oleh omongan orang atasmu. Padahal akupun tak sebaik yg kau kira. Kemudian aku pergi karena ingin berdamai dengan diriku yang beda, bukan karena kamu yang salah. Bodohnya aku yang dulu, kenapa aku harus kecewa atas pilihanmu, atau atas perkataanmu yang berubah di lain waktu. Bukankah kamu punya alasan atas apa yang kau pilih? dan bisa jadi ini bukan karenamu kan? Kenapa aku harus protes? Ah, aku juga tak tau kenapa aku bisa begitu, harusnya aku dulu bertanya bukan banyak berangan-angan. (mu, disini tidak cuman kamu tapi kamu-kamu yang pernah merasa dekat denganku hehe) Teruntuk teman teman di bangku sekolah berdasi merah sampai berdasi abu-abu, teman-teman dibangku kuliah, teman se organisasi, teman sekosan, teman karaoke, teman sekamar, teman kerja, teman ngopi, teman di dunia maya dan semua orang yang pernah berjabat tangan dan bertukar senyuman untukku. Terimakasih telah memberi kesempatan untuk mengenal, memberi tahu arti kehidupan dan yang jelas memberi kesadaran bahwa aku tertau banyak mengkritisi yang harusnya hanya sekedar dimaklumi. Manusia tempatnya salah memang, tapi untuk diriku ini banyak sekali salahnya dan aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku yang dulu. Dan teruntuk kamu yang masih bersamaku, menerima keperbedaanku. Terimakasih telah bodo amat atas keanehanku. Terimakasih sudah bertahan”